seminggu setelah Idul fitri 1437H dan hal-hal yang akan datang

Bulan  ramadhan 1437H atau bulan puasa di tahun 2016 ini sudah  berakhir 1 syawal 1437H atau 5 Juli 2016  seminggu kemarin. Untuk anda yang menjalankan ibadah puasa, bagaimana ibadah di bulan puasa ramadhan anda? Apakah berjalan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak?  Bagaimana konsumsi makanan dengan kandungan santan di Hari Raya lebarannya? bagaimana pertanyaan yang diajukan oleh para keluarga dan kerabat saat berkumpul di hari raya? bagaimana aktifitas setelah libur lebaran? Ah, sudahlah, maaf jika pertanyaan saya sekiranya mengganggu ranah privasi anda. Bulan ramadhan dan hari raya lebaran tentunya memberikan suasana berbeda disekitar anda, suasana kemacetan jalan yang berbeda dari bulan-bulan yang lain, hidangan jajanan khasnya, aktifitas orang-orang yang tidak sesemangat biasanya karena puasa, menjadi sangat semangat di hari raya lebaran dan hal-hal lainnya. Apakah anda termasuk orang-orang yang merasakan adanya letupan-letupan rasa antusiasme dan kebahagian ramadhan dan hari raya idul fitri tiba, ataukah karena usia yang sudah menjelang masa dewasa dan menjalankan ibadah sendiri ketika bulan ramadhan ya sudah rasanya begitu saja, dengan respon yang hanya “ya…. hmmm”, begitu?

Pada bulan ramadhan tahun sebelumnya ada sedikit kelegaan yang saya rasakan karena keributan rutin tahuanan yang terjadi hanya perihal boleh-tidaknya warung buka di siang hari, itu juga tidak terlalu ramai keributannya, berbeda dengan 2 tahun sebelumnya dimana bulan puasa bertepatan dengan suasana pemilu presiden 2014 yang mana membuat ranah internet khususnya media sosial menjadi sangat sangat tidak nyaman, bulan ramadhan tetapi saling hujat, fitnah dan hal-hal negatif lainnya yang berhubungan dengan Pemilu Presiden tetap berlangsung. Begitu juga dengan tahun ini, awalnya saya menyangka keributan yang akan terjadi dibulan ramadhan tahuh ini hanyalah keributan rutin tahunan perihal warung makan yang buka di siang hari, ternyata dugaan saya salah, keributan yang terjadi lebih besar dari biasanya.Berawal dari berita tentang Ibu Saeni, seorang pemilik warung makan yang menangis karena dagangannya disita karena buka saat siang hari dibulan ramadhan ( tidak mungkin kan sitaan yang beupa makanan tersebut disita kemudian dibuang begitu saja oleh para aparat Satpol PP ini? Kalau anda berpikir mereka akan langsung membuang sitaan dagangan makanan tersebut anda sedang berburuk sangka namanya. mari kita berpikir secara positif saja dan berbaik sangka, bisa jadi makanan sitaan tersebut tidak dibuang tetapi dikonsumsi untuk menghindari makanan yang terbuang sia-sia jika dibuang begitu saja, iya kan?). berita ini memancing simpati dari Netizen yang kemudian menggalang dana untuk bu saeni.  Tentu saja keributan ini memancing pro dan kontra terhadap kedua belah pihak, tapi yang lucu adalah beberapa facebook post yang saya temukan yang kontra dengan ibu saeni, diawali dengan “bukannya saya mendukung atau setuju dengan satpol PP yang menyita dagangan…” tapi isinya sih sama saja. Yang membuat saya heran adalah para orang-orang yang tidak cukup mencibir para netizen yang menggalang dana tetapi juga menyebarkan hoax dan fitnah bahwa si ibu saeni berkecukupan, mempunyai beberapa rumah makan, ibu saeni hanya berakting didepan kamera dan sebagainya. Anda bisa mengetikan keyword  “ibu saeni” di search engine Google untuk melihat hoax yang disebarkan orang-orang delusional ini melalui So-called “media ummat” kreasi mereka sendiri, entah tujuannya apa.

Ternyata bulan ramadhan tidak menghentikan aktivitas para penggiat hoax ini untuk terus menyebarkan fitnah dan hal-hal tidak mengenakan lainnya.

fitnah terhadap ibu saeni oleh 'media ummat'
fitnah terhadap ibu saeni oleh ‘media ummat’

Di bulan puasa ramadhan kemarin di jalan dekat kediaman saya ada beberapa pedagang jajanan ta’jil untuk berbuka puasa, untuk lebih jelasnya, para pedagang ini sudah menjajakan dagangannya sejak pukul 1-2 siang, di pinggir jalan, stand yang digunakan tidak ditutup. tidak ada yang marah-marah, Seharusnya dengan logika yang sama yang digunakan orang-orang yang memaksa warung makanan tutup pada siang hari, stand jajanan ta’jil ini tidak boleh buka juga kan? Bagaimana jika ada orang yang melewati pedagang jajanan ta’jil tersebut pada siang hari dan akhirnya tergoda sehingga membatalkan puasa lebih cepat?

Hal menarik yang saya temukan di bulan puasa Ramadan kemarin adalah Komentar-komentar orang orang haus hormat yang bragging ke-Puasa-an mereka di comment section di video YouTube yang membahas makanan. YouTube adalah layanan video on-demand yang tentu saja video tidak mulai jika anda tidak memilih videonya. Untuk apa orang orang tersebut Memilih video-video tersebut, menontonnya, kemudian marah-marah?

Tentu saja setelah raya idul fitri kita harus memaafkan perilaku orang-orang tersebut. Mari saling maaf-memaafkan, walaupun tahun depan kita harus mengulangi keributan rutin tahunan ini.

Minal Aidin Wal faidizin, mohon maaf lahir dan batin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s